Kenapa Eskapisme?

Istilah eskapisme pertama kali saya temukan ketika melakukan rutinitas menambah kosa kata baru dengan membuka kamus bahasa Indonesia. Bagi beberapa orang, eskapisme sering dipandang sebagai suatu gejala yang tidak baik, cenderung menyimpang. Konotasi eskapisme hampir selalu negatif. Jika ditinjau maknanya, eskapisme berarti melarikan diri dari masalah yang seharusnya dihadapi dengan melakukan kegiatan-kegiatan ekstrem atau tidak biasa. Bisa secara nyata, atau melalui khayalan. Orang-orang tertentu membebaskan diri dari kenyataan yang menimbulkan perasaan tertekan dengan melakukan pelarian kepada obat-obatan terlarang atau perilaku merugikan yang lain, baik merugikan bagi diri sendiri maupun untuk masyarakat sekitar.

Mengapa eskapisme?
Sebelum saya menyadari ada istilah untuk sikap hidup seperti itu, saya telah melakukannya berkali-kali. Bukan dengan melakukan hal-hal yang cenderung mengganggu kenyaman hidup orang lain. Menjadi eskapis bagi saya cukup dengan keluar jalan-jalan ketika rutinitas membawa saya sampai pada titik jenuh. Membebaskan diri saya menikmati jalanan di Kota Jogja dengan cukup berjalan kaki selelah yang saya mampu lakukan. Membiarkan khayalan saya menerawang sepanjang jalan-jalan yang tidak terlalu saya kenal. Melupakan sejenak kehidupan yang seringkali melelahkan.

Setelah mengenal istilah eskapisme, saya yakin eskapisme dapat saja berupa pelarian-pembebasan diri dengan melakukan hal-hal positif yang disukai. Dengan ekspisme-positif ini, saya akan mencoba menjadi eskapis dengan cara yang lain. Menulis umumnya dianggap sebagai cara terbaik mengungkapkan kegelisahan, depresi, atau rasa kecewa terhadap kehidupan. Lewat eskapisme-positif ini, saya akan menulis. Berbagi pengalaman, kebahagiaan, atau kebaikan.

Menepi sejenak itu perlu. Kau bisa mencoba menjadi eskapis seperti saya.
Merci.

Komentar